MALANG, Zona Malang – Universitas Brawijaya (UB) kembali menerapkan kuliah daring setelah sebelumnya menjalankan sistem perkuliahan secara hybrid di beberapa fakultas. Keputusan ini diambil akibat meningkatnya kasus COVID-19 di Malang.
Berdasarkan surat Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, M.S. bernomor 2196/UN.10/TU/2022 tertanggal 11 Februari 2022, UB memutuskan untuk kembali menerapkan kebijakan perkuliahan daring. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di lingkungan kampus.
“Kami memutuskan untuk kembali menerapkan kuliah daring karena melihat peningkatan kasus COVID-19 di wilayah Malang. Ini merupakan langkah terbaik untuk menjaga kesehatan dan keselamatan seluruh civitas akademika UB,” ujar Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, M.S.
Sebelumnya, UB telah menerapkan sistem perkuliahan hybrid di beberapa fakultas sejak 7 Februari 2022. Namun, dengan adanya peningkatan kasus COVID-19, pihak UB memutuskan untuk kembali menerapkan kuliah daring secara menyeluruh.
Kebijakan ini berlaku untuk seluruh program studi di UB, baik program sarjana, magister, maupun doktoral. Seluruh kegiatan perkuliahan, praktikum, dan evaluasi akan dilaksanakan secara daring hingga pemberitahuan lebih lanjut.
“Kami memahami bahwa sistem daring memiliki beberapa kendala, terutama terkait dengan jaringan internet dan penyesuaian diri mahasiswa. Namun, kesehatan dan keselamatan seluruh civitas akademika UB adalah prioritas utama kami saat ini,” lanjut Rektor.
Pihak UB juga berharap agar seluruh civitas akademika dapat mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan situasi dapat segera kembali normal.
“Kami memohon dukungan dan pengertian dari seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan UB. Kami akan terus memantau perkembangan situasi dan akan segera mengumumkan kebijakan selanjutnya jika kondisi membaik,” pungkas Rektor.
Keputusan UB untuk kembali menerapkan kuliah daring ini tentunya menjadi kabar yang mengejutkan bagi seluruh civitas akademika. Pasalnya, sistem perkuliahan hybrid yang baru saja diterapkan harus kembali diganti.
Namun, langkah ini dianggap sebagai tindakan yang bijak dan tepat mengingat tingginya angka kasus COVID-19 di wilayah Malang. Diharapkan dengan kebijakan ini, penyebaran virus dapat diminimalisir dan aktivitas perkuliahan dapat berjalan dengan lancar.
Tentu saja, tidak semua mahasiswa menyambut baik keputusan ini. Beberapa mahasiswa mengaku kecewa karena merindukan suasana perkuliahan tatap muka. Namun, mereka juga memahami bahwa kesehatan adalah hal yang paling utama.
“Saya sebenarnya lebih suka kuliah tatap muka, tapi saya juga mengerti alasan UB untuk kembali ke sistem daring. Semoga situasinya segera membaik sehingga kita bisa kembali ke kampus,” ujar Andi, mahasiswa Teknik Industri UB.
Selain itu, beberapa mahasiswa juga mengkhawatirkan dampak dari sistem daring terhadap proses pembelajaran mereka. Mereka berharap pihak UB dapat memaksimalkan kualitas perkuliahan daring dan memberikan dukungan yang memadai.
“Saya berharap UB dapat mempersiapkan sistem daring dengan lebih baik. Jangan sampai kualitas pembelajaran menurun karena kendala teknis atau kurangnya fasilitas,” tambah Putri, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB.
Meskipun keputusan ini tidak sepenuhnya disukai oleh seluruh civitas akademika, namun pihak UB tetap berkomitmen untuk menjaga kesehatan dan keselamatan seluruh warganya. Diharapkan dengan adanya kerja sama yang baik, situasi dapat segera kembali normal.






