Kerusuhan Kanjuruhan Kembali Terulang, Bus Pemain Persik Dilempari Suporter Usai Laga Kontra Arema FC

Malang – Insiden kekerasan kembali mencoreng dunia sepak bola nasional, tepat di lokasi yang pernah menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah olahraga Indonesia.

Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, yang seharusnya menjadi simbol pemulihan dan rekonsiliasi pasca Tragedi Kanjuruhan 2022, justru kembali menyuguhkan aksi tak terpuji dari oknum suporter.

Minggu petang (11/5/2025), usai laga antara Arema FC melawan Persik Kediri yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, sekelompok suporter yang diduga berasal dari Aremania dilaporkan melakukan pelemparan terhadap bus yang ditumpangi para pemain Persik.

Video rekaman singkat insiden tersebut beredar luas di Grup WhatsApp Bola Indonesia dan media sosial, memperlihatkan detik-detik bus Persik dihujani batu saat hendak meninggalkan stadion.

“Ngamuk. Bus pemain Persik dilempar batu,” demikian keterangan video yang diterima redaksi Zona Malang.

Dalam video tersebut, tampak jelas sejumlah kaca bus pecah akibat lemparan benda keras. Suasana di dalam kendaraan pun penuh kepanikan. Salah seorang di dalam bus terdengar berteriak, “Depan bocor! Di depan bocor! Awas tas!”—menggambarkan betapa genting situasi saat itu.

Yang lebih menyedihkan, pertandingan Arema FC kontra Persik Kediri ini sejatinya merupakan laga kandang perdana Arema FC kembali ke Stadion Kanjuruhan setelah beberapa tahun terusir akibat tragedi memilukan pada 1 Oktober 2022 yang merenggut nyawa 135 jiwa.

Alih-alih menjadi momentum pemulihan dan simbol kedewasaan suporter, insiden kekerasan ini justru menguatkan kesan bahwa sebagian kecil oknum masih gagal belajar dari sejarah kelam.

Pelemparan terhadap bus lawan bukan hanya tindakan kriminal, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap upaya panjang berbagai pihak—termasuk keluarga korban, pegiat HAM, dan pecinta sepak bola Tanah Air—yang menginginkan sepak bola Indonesia menjadi ruang aman, damai, dan menyenangkan untuk semua.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun manajemen Arema FC terkait insiden ini. Namun, publik mendesak agar aparat bertindak tegas.

Tidak ada tempat bagi kekerasan dalam sepak bola, apalagi jika dilakukan di stadion yang pernah menjadi lokasi tragedi yang seharusnya menyatukan, bukan memecah.

Apakah insiden ini akan kembali menjadi luka baru bagi Kanjuruhan, atau justru membuka mata semua pihak untuk kembali menegakkan disiplin dan etika suporter secara lebih serius? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan arah masa depan sepak bola Indonesia.(***)