Situasi Terkini Pasca-Demo Ricuh di Malang: 4 Polisi Kritis, 17 Warga Terluka, dan 61 Orang Diamankan

MALANG – Aksi solidaritas untuk mengenang tewasnya pengemudi ojol Affan Kurniawan yang digelar di depan Mapolresta Malang Kota pada Jumat (29/8) malam, berakhir dengan kericuhan hebat. Insiden ini meninggalkan jejak luka bagi belasan orang dan puluhan lainnya harus diamankan oleh pihak kepolisian.

Berdasarkan data yang dihimpun pada hari ini, Sabtu (30/8), total terdapat 17 orang yang harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang akibat bentrokan tersebut. Sebagian besar dari mereka telah dipulangkan setelah mendapat perawatan.

“Ada 17 pasien yang masuk IGD RSSA semalam, namun pagi tadi tinggal 2 orang. Satu orang masih observasi di IGD, satu orang masuk rawat inap untuk perawatan selanjutnya,” kata Kabag Humas RSSA Malang, Donny Iryan Vebry Prasetyo.

Di antara para korban luka, kondisi paling parah dialami oleh empat orang anggota Polresta Malang Kota. Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Nanang Haryono, menyatakan bahwa keempat anggotanya tersebut kini masih dalam kondisi kritis di rumah sakit.

“Empat orang anggota luka. Satu kepala bocor, ada yang lengannya patah karena lemparan, dan ada yang dislokasi kena hantaman kayu. Kritis semua mereka,” urai Kombes Nanang dengan nada prihatin.

Pihak RSSA juga mengonfirmasi bahwa imbas dari penembakan gas air mata oleh aparat, asapnya sempat masuk ke area rumah sakit yang lokasinya berseberangan dengan Mapolresta. “Gas air mata sempat masuk area, namun alhamdulillah tidak ada pasien maupun dokter yang terdampak langsung,” tambah Donny.

Menanggapi penggunaan gas air mata, Kapolresta Nanang Haryono menegaskan bahwa tindakan tersebut terpaksa dilakukan sebagai upaya terakhir. Menurutnya, massa aksi sudah bertindak sangat anarkis dan mengancam akan membakar kantor polisi. “Kalau tidak kami lakukan, kantor dibakar. Kami sudah bertahan selama 3 jam,” tandasnya.

Selain korban luka, pihak kepolisian juga mengamankan sebanyak 61 orang yang diduga terlibat dalam aksi perusakan dan anarkisme. Dari jumlah tersebut, 21 di antaranya merupakan anak-anak di bawah umur, sementara 40 lainnya adalah orang dewasa.

Kombes Nanang menyatakan akan mengambil pendekatan berbeda dalam penanganan para terduga pelaku. “Untuk yang anak-anak, sore ini saya minta lepas semua. Tentu kami juga akan panggil guru dan orang tua mereka semua untuk memberikan edukasi,” tegasnya. Sementara itu, 40 orang dewasa lainnya akan terus menjalani pemeriksaan untuk menentukan keterlibatan dan proses hukum selanjutnya.