Zona Malang – Suasana khidmat pengajian dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berubah menjadi jerit tangis dan kepanikan dalam sekejap.
Bangunan Majelis Taklim Ashobiyyah di Kampung Ciapus, Kabupaten Bogor, yang dipenuhi puluhan jemaah perempuan, runtuh tanpa peringatan pada Minggu (7/9) pagi.
Di tengah puing-puing, terungkap kisah-kisah perjuangan hidup yang mencekam dari para korban selamat.
Salah seorang korban, Nining (45), menuturkan kembali detik-detik mengerikan itu saat ditemui di Posko Kesehatan pada Senin (8/9) hari ini. Ia datang ke majelis taklim sekitar pukul 09.00 WIB bersama anak perempuan dan saudaranya untuk mengikuti pengajian rutin. Namun, tak ada firasat apa pun sebelumnya.
“Gak denger ada suara (retakan). Tiba-tiba ambruk aja,” ujar Nining, menggambarkan betapa cepatnya tragedi itu terjadi. Ia yang berada di dalam ruangan langsung tertimbun reruntuhan dalam posisi terlentang, tak mampu bergerak.
Nining melukiskan situasi di bawah puing-puing dengan begitu gamblang.
Ia merasa tubuhnya tertindih beton dan besi, sementara di bawah dan di atasnya juga ada jemaah lain yang bernasib sama. “Posisi saya di dalam. Jadi numpuk kayak ikan. Bawah saya ada, terus atasnya saya. Saya tertimpa beton besi,” kenangnya.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah keajaiban datang dari putrinya yang sedang hamil. Sang anak, yang juga menjadi korban namun berhasil bebas lebih dulu, menolak untuk menyelamatkan diri sendiri. “Saya ditolong sama anak saya. Langsung diangkat dan betonnya diangkat,” ucap Nining.
Momen heroik itu terjadi setelah ia sempat menyuruh anaknya menjauh karena khawatir akan adanya reruntuhan susulan.
Keduanya pun berhasil selamat, hanya menderita luka lebam dan lecet.
Namun, duka tetap menyelimuti keluarga mereka. “Alhamdulillah saya dan anak saya cuman lebam. Anak saya juga lagi hamil. Alhamdulillahnya selamat. Tapi, saudara saya yang jadi korban itu patah tangannya,” ungkap Nining yang mengaku masih merasakan pusing akibat benturan di kepala.
Kesaksian lain datang dari Euis (35), yang juga berada di lantai dua saat bangunan runtuh. Ia menggambarkan suasana di dalam ruangan yang penuh dengan teriakan histeris para ibu, yang bercampur dengan lantunan zikir di tengah kepanikan. “Pas kejadian yaudah nge-blank aja, ada lah teriakan ibu-ibu, ada pada zikir gitu,” ujarnya.
Euis yang duduk di dekat pintu ikut terbawa material bangunan yang runtuh. Dalam kondisi syok, ia berhasil bangkit dan berlari mencari pertolongan, tanpa menyadari bahwa tangan kanannya telah patah dan bibirnya terluka parah.
Tragedi Majelis Taklim Ashobiyyah ini, yang terjadi saat lebih dari 50 jemaah berkumpul, telah merenggut empat korban jiwa dan menyebabkan lebih dari 85 orang lainnya mengalami luka-luka.
Sementara investigasi penyebab runtuhnya bangunan yang baru digunakan sejak Juni 2025 ini terus berjalan, kesaksian para korban selamat menjadi pengingat pilu akan rapuhnya batas antara kehidupan dan kematian dalam sebuah bencana.






