Sejumlah wali murid di SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Solo, secara tegas menolak rencana implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah. Mereka menyatakan lebih percaya pada sistem “kantin sehat” yang sudah berjalan di sekolah, meskipun harus membayar Rp10.000 untuk setiap porsi makan anak mereka.
Sikap penolakan ini, menurut para orang tua, dipicu oleh maraknya pemberitaan mengenai kasus keracunan massal yang terjadi di sejumlah daerah lain dalam program MBG.
Salah seorang wali murid, Devi Ari Ningsih (40), pada Senin (29/9) menjelaskan bahwa para orang tua sudah sepakat menolak program MBG yang rencananya akan dimulai dua minggu lalu. Menurutnya, kantin sehat yang dikelola oleh pihak sekolah selama ini sudah teruji dari segi kebersihan, kesehatan, dan kualitas gizinya.
“Iya menolak karena sudah ada kantin sehat, sudah teruji. Alhamdulillah nggak ada kendala apa-apa, makanan juga higienis dan sehat. Dari MBG kami sepakat menolak dari kasus yang kemarin (kasus keracunan di daerah lain),” kata Devi.
Para orang tua lebih memilih untuk tetap membayar dan melanjutkan skema dapur sehat yang sudah mereka percaya untuk menyediakan makanan bagi anak-anak mereka selama di sekolah.
Kasus penolakan ini menjadi sebuah hal penting dan merupakan masukan kritis bagi pemerintah dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis secara nasional. Peristiwa di Solo ini menunjukkan bahwa bagi para orang tua, faktor utama bukanlah sekadar “gratis”, melainkan jaminan keamanan dan kualitas makanan yang akan dikonsumsi oleh anak-anak mereka. Insiden ini menggarisbawahi betapa krusialnya membangun kepercayaan publik melalui pengawasan mutu dan standar higienitas yang ketat, agar tujuan mulia dari program ini tidak terhambat oleh keraguan dan kekhawatiran masyarakat.






