Zona Malang – Cuaca ekstrem yang ditandai hujan deras disertai angin kencang telah memicu bencana hidrometeorologi di Kota Malang pada Minggu (2/11) sore. Sebanyak 22 pohon besar dilaporkan tumbang di 12 titik berbeda, menyebabkan kerusakan material yang signifikan, termasuk menimpa dua mobil dan dua sepeda motor, serta memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan utama.
Kepala Pelaksana Tugas BPBD Kota Malang, Prayitno, pada Senin (3/11) pagi, mengonfirmasi bahwa dampak terparah terjadi di sepanjang Jalan Mayjen Sungkono, Kecamatan Kedungkandang. Di lokasi ini saja, 12 pohon besar dengan diameter mencapai 50-60 cm roboh. Akibatnya, satu mobil yang terparkir di kantor Kecamatan Gadang tertimpa, dan satu mobil lainnya di Jalan Raya Gadang mengalami ringsek berat di bagian atap.
Mengenai adanya korban, Prayitno menyatakan bahwa BPBD belum menerima laporan resmi terkait data korban jiwa. Namun, ia membenarkan bahwa ada warga yang tertimpa pohon dan sudah dilarikan ke rumah sakit. Saat ini, fokus utama tim di lapangan adalah melakukan pembersihan dan evakuasi material pohon yang menutup akses jalan.
Proses penanganan di Jalan Mayjen Sungkono dipastikan akan memakan waktu lama. Tim gabungan dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), TNI, Polri, dan para relawan harus menghadapi tantangan berat tidak hanya dari ukuran pohon yang masif, tetapi juga adanya tiang listrik yang ikut tumbang sehingga menambah kerumitan evakuasi.
Fenomena pohon tumbang akibat cuaca ekstrem ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Malang. Sebagai kota yang dikenal memiliki banyak pohon pelindung berukuran besar dan berusia tua, Malang memang memiliki kerawanan tersendiri saat memasuki musim pancaroba. Transisi dari musim kemarau ke musim hujan seringkali ditandai dengan badai singkat namun destruktif, yang dengan mudah merobohkan pohon-pohon yang mungkin akarnya sudah tidak kuat atau batangnya mulai keropos.
Dalam penanganan bencana kali ini, Prayitno secara jujur mengakui keterbatasan yang dihadapi timnya. Ia menyebut bahwa kendala utama adalah jumlah personel BPBD yang sangat terbatas, yakni hanya 12 orang.
Jumlah ini tentu sangat tidak sebanding dengan 12 titik lokasi bencana yang tersebar di seluruh penjuru kota dan harus ditangani secara serentak. “Kendala kita selain jumlah petugas BPBD yang hanya 12 orang, wilayah yang terdampak pohon tumbang menyebar,” ujarnya.
Pengakuan jujur dari Kepala BPBD ini menyoroti sebuah tantangan klasik dalam manajemen bencana di tingkat kota. Ini menunjukkan betapa vitalnya peran sinergi lintas sektor. Tanpa bantuan aktif dari DLH yang memiliki gergaji mesin (chainsaw) lebih banyak, serta tenaga dari TNI, Polri, dan para relawan Tagana, mustahil pemulihan kota dapat berjalan cepat. Keterbatasan ini juga menjadi sinyal bahwa partisipasi warga dalam mitigasi bencana sangat dibutuhkan.
Tumbangnya belasan pohon berdiameter besar di satu ruas jalan (Mayjen Sungkono) juga patut menjadi bahan evaluasi serius bagi dinas terkait. Ini bukan lagi soal satu pohon yang rapuh, melainkan bisa jadi indikasi adanya masalah yang lebih sistemik.
Sudah saatnya dilakukan audit kesehatan dan peremajaan pohon-pohon tua di sepanjang jalan arteri kota untuk mencegah insiden serupa terulang, karena dampaknya tidak hanya materiil (mobil ringsek) tetapi juga mengancam nyawa pengguna jalan.
Bencana hidrometeorologi ini menjadi sebuah peringatan penting bagi Anda, warga Kota Malang, bahwa musim hujan telah tiba dengan potensi bahaya yang nyata. Bagi Anda para pengendara, selalu tingkatkan kewaspadaan saat hujan deras disertai angin.
Hindari memarkir kendaraan atau berteduh di bawah pohon-pohon besar dan tua. Keterbatasan personel BPBD juga menjadi panggilan bagi kita semua untuk lebih proaktif: jika melihat pohon yang terlihat rapuh atau miring di lingkungan Anda, segera laporkan ke dinas terkait sebelum jatuh korban.






