Sambangi Keluarga Bocah Korban Pembunuhan, Wabup Pasuruan Ungkap PR Besar soal Pengangguran

Berita di Desa Sambisirah, Kecamatan Wonorejo, Pasuruan, pasca-kasus pembunuhan M. Haidar Mustofa (10) oleh tetangganya sendiri. Wakil Bupati Pasuruan, Shobih Asrori atau Gus Shobih

Zona Malang, Pasuruan – Suasana duka yang mendalam masih menyelimuti Desa Sambisirah, Kecamatan Wonorejo, Pasuruan, pasca-kasus pembunuhan M. Haidar Mustofa (10) oleh tetangganya sendiri. Wakil Bupati Pasuruan, Shobih Asrori atau Gus Shobih, datang langsung menyambangi keluarga korban pada Senin (11/8) untuk menyampaikan belasungkawa dan memastikan kondisi keluarga yang ditinggalkan.

Pantauan di lokasi, Gus Shobih tidak langsung menuju rumah duka. Ia terlebih dahulu meninjau kondisi rumah pelaku, Mohamad Afandi (32), yang rusak akibat amukan massa. Di sana, ia meminta Muspika Wonorejo untuk terus menjaga kondusifitas dan mencegah adanya aksi perusakan susulan.

“Hal tersebut juga tidak dibenarkan secara hukum. Tapi kami juga memahami bagaimana perasaan keluarga yang telah ditinggalkan, mungkin itu sebagai spontanitas warga sampai merusak rumah pelaku,” katanya, Senin (11/8).

Setelah memastikan situasi di sekitar rumah pelaku terkendali, Gus Shobih kemudian beranjak untuk takziah ke rumah almarhum Haidar. Kedatangannya disambut langsung oleh ayah korban, Juli Eko. Gus Shobih menyatakan, tujuan utamanya adalah untuk memberikan dukungan moril dan psikologis kepada orang tua yang sedang terguncang.

“Saya hanya ingin memastikan psikologi orang tuanya. Karena sebagai seorang ayah yang kehilangan anaknya, kita semua pasti tahu bagaimana sakitnya,” ungkapnya dengan raut wajah prihatin.

Lebih dari sekadar ucapan duka, Gus Shobih menegaskan bahwa tragedi ini menjadi catatan dan pekerjaan rumah (PR) besar bagi Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan informasi dari pihak berwenang, pelaku diduga memiliki latar belakang sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dipicu oleh masalah ekonomi.

Ia menyebut, pelaku diduga mengalami depresi karena tak kunjung mendapat pekerjaan hingga akhirnya ditinggal oleh sang istri.

“Katanya pak Kades sudah tiga kali datang minta pekerjaan. Istrinya juga meninggalkan rumah karena gak kuat. Dari sini, kami juga harus memikirkan dan memperhatikan tentang pengangguran. Mudah-mudahan ikhtiyar Pak Bupati dan kami untuk secara bertahap menyelesaikannya,” tegas Gus Shobih.