Warga Winongan Pasuruan Bongkar Makam Habaib, Diduga Karena Makam Tersebut Tak Berizin!

Kemarahan massa ini dipicu oleh aksi pembongkaran sebuah bangunan makam Habaib dan Syarifah yang berlokasi di belakang Masjid Serambi, Desa Winongan Kidul, pada Rabu siang

Zona Malang – Jaminan proses hukum yang transparan dan permohonan maaf secara terbuka dari Kapolres Pasuruan, AKBP Jazuli Dabi Iriawan, berhasil meredam ketegangan yang sempat memanas di Kecamatan Winongan pada Rabu (1/10) malam. Didukung oleh imbauan dari para ulama dan tokoh masyarakat, ratusan massa yang berkumpul di Mapolsek Winongan akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

Kapolres berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini dan akan melaporkan setiap perkembangannya kepada jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). “Atas nama jabatan, saya mohon maaf atas kejadian ini. Percayakan kepada kami proses hukumnya,” ujar Kapolres.

Ia juga telah memerintahkan jajaran Satreskrim dan Intelkam untuk memetakan kasus serta meminta warga yang memiliki bukti video untuk menyerahkannya. Pernyataan ini diperkuat oleh Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, yang mengecam keras aksi anarkis dan meminta masyarakat untuk mempercayakan sepenuhnya pada proses hukum.

Kemarahan massa ini dipicu oleh aksi pembongkaran paksa sebuah bangunan makam Habaib dan Syarifah yang berlokasi di belakang Masjid Serambi, Desa Winongan Kidul, pada Rabu siang. Sekelompok warga melakukan perusakan dengan alasan bangunan tersebut tidak berizin dan dianggap tidak menghargai keberadaan makam para kiai dan auliya yang lebih dulu ada di lokasi tersebut.

Akibat peristiwa pembongkaran itu, ratusan orang yang tidak terima kemudian mendatangi Mapolsek Winongan pada malam harinya. Mereka menuntut pihak kepolisian untuk segera menangkap para pelaku dan menegakkan keadilan, menciptakan suasana yang sempat tegang di sekitar kantor polisi.

Melihat situasi yang kian memanas, para tokoh agama dan ulama, yang dipimpin oleh Habib Abu Bakar Assegaf, bersama jajaran Forkopimda segera menggelar mediasi. Di hadapan massa, Habib Abu Bakar menyampaikan hasil komunikasinya dengan Kapolres.

Ia menegaskan bahwa polisi telah memberikan jaminan akan mengusut kasus ini sampai ke dalang intelektualnya. Atas dasar itu, ia meminta dengan hormat agar seluruh massa kembali ke rumah dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri yang hanya akan merugikan.

Peristiwa di Winongan ini menjadi sebuah pelajaran penting tentang bagaimana sebuah konflik sosial dapat dikelola dengan baik. Bagi masyarakat, ini menunjukkan sebuah model penyelesaian masalah yang efektif, di mana respons cepat dari para pemimpin—baik pemimpin formal seperti Bupati dan Kapolres maupun pemimpin informal seperti ulama dan habaib—menjadi kunci utama.

Kerendahan hati aparat untuk meminta maaf, jaminan penegakan hukum yang tegas, serta imbauan menyejukkan dari tokoh yang dihormati terbukti mampu mencegah eskalasi konflik dan mengembalikan kepercayaan publik pada jalur penyelesaian yang damai dan berkeadilan.